Thursday, 30 January 2014

Hikmah no 5

Terjemah Al-Hikam

Hikmah no 5

“Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.”

Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy (penerjemah) di halaman 15-16:
Firman Allah di QS.Al-Ankabut[29]:60: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. ThaaHaa[20]:132)
Kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yang dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su’udhon) terhadap Allah. Kedua, yang dituntut Allah maka jangan kita abaikan.
Dalam sebuah hadits yang kurang lebih artinya demikian:
“Mengapakah orang-orang yang mengagungkan orang yang kaya, pemboros dan menghina ahli-ahli ibadah, serta yang selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yang sesuai dengan hawanafsu mereka sedangkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan hawanafsunya mereka tinggalkan, padahal yang demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa-apa yang dapat dicapai tanpa usaha, yaitu bagian yang pasti tiba dan ajal yang sudah ditentukan, dan rezeki yang menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yang tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala-pahala yang besar dan amal-amal ibadah dan ‘dagangan’ yang tidak akan rusak.”
Ibrahim Al-Khawwash berkata: “Jangan memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang diamanahkan kepadamu.”
Oleh sebab itu, maka siapa yang berusaha untuk mencapai yang sudah dijamin, dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.

Kewajiban yang hendaknya kita ikhtiarkan dengan perjuangan sekuat tenaga adalah secara singkat mencari keridhoan Allah SWT dalam berbagai kondisi kita. Dan jika dirinci lebih lanjut a.l.:
- Dzikrullah baik dalam duduk, berdiri, berbaring, dsb (QS. 3:191)
- Khusyu’ dalam shalat (QS. 2:45-46)
- Shaum lahir maupun batin (QS. 2:183)
- Menyempurnakan keberserah-dirian kepada Allah SWT (QS. 2:208)
- Takwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqatu qattihi; QS. 3:102)
- Menerima dengan ridho dan menjaga rezeki harta yang Allah anugrahkan
- Dsb.
Sesungguhnya rezeki harta yang sudah, sedang maupun akan kita terima, telah Allah tetapkan (qodho) di Lauh Al-Mahfudz. Tentu saja, keyakinan kita terhadap hal tersebut serta penyikapan kita sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita masing-masing. Itulah yang dimaksudkan oleh Syaikh Ibnu Aththoillah ra. sebagai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu.
Sedangkan istiqamah dzikrullah, shalat yang khusyu’, keberserah-dirian yang total kepada Allah, menerima apa-apa yang Allah anugrahkan kepada kita tidaklah Allah berikan jika kita tidak berjuang dengan keras, itulah yang dimaksud oleh beliau sebagai kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu.
Demikianlah, jika kita mengabaikan yang menjadi kewajiban karena energi dan kesempatan kita sudah habis dipergunakan mencari apa-apa yang sudah dijamin oleh Allah SWT, maka kita disebut buta mata hati.

Marilah kita merenungi hikmah di atas dengan qalbu yang semoga Allah bebaskan dari penguasaan hawanafsu, serta akal nalar yang mengikuti hukum-hukumnya dengan optimal.
Laa haula wa laa quwwata illa billahil Aliyyul Adhim.
Wa Allahu A’lam bishawwab.

Hikmah no 4

Terjemah Al-Hikam

Hikmah no 4

“Istirahatkan dirimu dari at-tadbir(kerisauan mengatur kebutuhan), sebab apa yang sudah dijaminkan/diselesaikan oleh selainmu, tidak perlu engkau sibuk memikirkannya.”

Ustadz Salim Bahreisy menambahan dalam buku terjemahannya di hal 14:
Sebagai seorang hamba, kita wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah/balasan ada di tangan majikan, maka tidak usah merisaukan pikiran maupun perasaan untuk mengatur (tadbir), karena mengkhawatirkan apa yang telah dijaminkan itu tidak tiba, atau terlambat. Sebab ragu terhadap jaminan Allah adalah tanda kurangnya iman kita.


Marilah kita menyadari bahwa kalimat hikmah tersebut keluar dari seorang yang pengenalannya (ma’rifat) kepada Allah beserta Af’al, Shifat dan Asma-Nya telah mencapai maqam/tingkat yang jauh di atas maqam kita, yaitu kesempurnaan atas seizin Allah.
Beliau yang telah mengenal bahwa Allah adalah Rabb yang sempurna Pemeliharaan serta Pemberian Rezeki-Nya kepada makhluk-makhluknya, menasihatkan kepada kita yang seringkali kelalaian kita menyebabkan kurang yakinnya kita atas Pemeliharaan serta Penjaminan rezeki kita oleh Allah.
Hendaknya kesibukan kita lebih berfokus pada penyempurnaan penunaian kewajiban-kewajiban kita kepada Allah, sebab Dia, Rabb yang sekaligus Ar-Raazak pasti akan membalas penunaian kewajiban tersebut dengan anugrah-Nya yang akan mencukupi kebutuhan kita.
Di antara kewajiban kita yang telah Allah firmankan dalam Al-Quran antara lain,
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. ThaaHa [20]:14)
“…Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada Nya”, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad [13]:28)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raaf [7]:172)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”.Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]:161-162)
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45-46)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang lubb-nya aktif (ulil albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. ThaaHaa [20]:132)
Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘Aliyyul ‘Adhim.
Wa Allahu A’lam bi shawwab.

Hikmah no 3

Terjemah Al-Hikam 

Hikmah no 3
“Kekerasan himmah itu, tidak dapat menembus tirai takdir.”


Pengertian himmah
Menurut Ibnu Qoyyim ra., bahwa himmah adalah awal hasrat. Secara khusus, orang-orang mengartikannya sebagai puncak hasrat. Hammu adalah permulaan hasrat, dan himmah adalah puncak hasrat.
Ustadz Salim Bahreisy dalam terjemahnya menambahkan dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran berikut:
“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. At-Takwir [81]:27-29)
Juga,
“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan [76]:30)
Dalam Al-Quran, persoalan takdir Allah firmankan dengan serangkaian ayat-ayat-Nya yang membutuhkan qalb/hati yang suci dari penyakit-penyakitnya serta akal nalar yang memenuhi kaidah mantiq/hukum logika yang tertib. Karena seandainya kita memahami ayat-ayat tersebut sepotong-sepotong dan tidak menganalisis secara nalar dengan paripurna, ditambah kemudian hati kita sedang terkuasai oleh penyakit melampiaskan hawa nafsu diri, maka kita pun akan salah dalam menangkap makna takdir seperti yang Allah kehendaki.
Sekedar menambah wawasan kita tentang takdir dalam Al-Quran, terdapat ayat-ayat yang menerangkan bahwa Allah-lah yang memberi hidayah/petunjuk atau pun menyesatkan kepada kita, misalnya:
“Maka apakah orang yang dijadikan menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fathir[35]:8)
Namun pada ayat-ayat lainnya disebutkan bahwa kita yang hendaknya mengubah keadaan diri kita.
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.Ar-Ra’d[13]:11)
Dalam memahami persoalan takdir yang nampak rumit namun penting dalam kehidupan kita, sesungguhnya kita (saya lebih tepatnya) benar-benar memerlukan bimbingan seorang guru yang telah memperoleh kesempurnaan ma’rifatullah.
Nah, dalam hikmah no 3 di atas, Syaikh Ibnu Aththoillah ra., seorang yang qalb-nya telah mencapai kesempurnaan ma’rifatullah menyampaikan bahwa sekuat apa pun himmah kita, hal itu tidak akan mampu menembus takdir diri kita.
Sahabats,
Dengan senantiasa memohon rahmat dan bimbingan Allah, marilah kita merenungkan serta berusaha mengamalkan hikmah tersebut. Semoga Allah meridhoi kita. Amiin.
Wallahu a’lam bi shawwab (Dan Allah-lah yang Paling berilmu dengan Kebenaran-Nya)

Monday, 27 January 2014

Tarekat Syattariyah (2)


Ajaran dan Dzikir Tarekat Syattariyah (2)

Dzikir Tarekat SyattariyahMenurut aturan Tarekat Syattariyah, pelafalan dzikir dengan menyebut nama-nama Allah SWT harus dilakukan secara berurutan. Artinya, terlebih dahulu menyebut nama-nama yang berhubungan dengan keagungan-Nya, kemudian diikuti dengan nama-nama yang berhubungan dengan keindahan-Nya, dan nama-nama yang merupakan gabungan kedua sifat tersebut.

Proses ini dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang hingga hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Apabila hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:

1. Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.

2. Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.

3. Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.

4. Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.

5. Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.

6. Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.

7. Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”. Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:

1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:
Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.

2. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.

3. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.

4. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.

5. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.

6. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.

7. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (al-asma’ al-husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni;

a) menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain.

b) menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-’Alim, dan lain-lain.

c) menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu’min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas.

Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Satu hal yang harus diingat, sebagaimana juga di dalam tarekat-tarekat lainnya, adalah bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru atau syaikh. Pembimbing spiritual ini adalah seseorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan semua realitas, tidak bersikap sombong, dan tidak membukakan rahasia-rahasia pandangan batinnya kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Di dalam tarekat ini, guru atau yang biasa diistilahkan dengan wasithah dianggap berhak dan sah apabila terangkum dalam mata rantai silsilah tarekat ini yang tidak putus dari Nabi Muhammad Saw. lewat Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, hingga kini dan seterusnya sampai kiamat nanti; kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub; dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murbiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan). Secara terperinci, persyaratan-persyaratan penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syattariyah adalah sebagai berikut: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal; selalu berkata benar; rendah hati; sedikit makan dan sedikit bicara; setia terhadap guru atau syaikhnya; kosentrasi hanya kepada Allah SWT; selalu berpuasa; memisahkan diri dari kehidupan ramai; berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih; menundukkan ego dengan penuh kerelaan kepada disiplin dan penyiksaan diri; makan dan minum dari pemberian pelayan; menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram; membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan bangga diri; mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.

Sanad atau Silsilah Tarekat Syattariyah
Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat ini memiliki sanad atau silsilah para wasithahnya yang bersambungan sampai kepada Rasulullah Saw. Para pengikut tarekat ini meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw., atas petunjuk Allah SWT, menunjuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai Ahl adz-dzikr, tugas dan fungsi kerasulannya. Kemudian Ali menyerahkan risalahnya sebagai Ahl adz-dzikir kepada putranya, Hasan bin Ali ra., dan demikian seterusnya sampai sekarang. Pelimpahan hak dan wewenang ini tidak selalu didasarkan atas garis keturunan, tetapi lebih didasarkan pada keyakinan atas dasar kehendak Allah SWT yang isyaratnya biasanya diterima oleh sang wasithah jauh sebelum melakukan pelimpahan, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad Saw. sebelum melimpahkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

Berikut contoh sanad Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh para mursyid atau wasithahnya di Indonesia:

Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada Imam Zainal Abidin, kepada Imam Muhammad Baqir, kepada Imam Ja’far Syidiq, kepada Abu Yazid al-Busthami, kepada Syekh Muhammad Maghrib, kepada Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada Syekh Muhammad Asyiq, kepada Syekh Muhammad Arif, kepada Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada Syekh Hidayatullah Saramat, kepada Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada Syekh Muhammad Ghauts, kepada Syekh Wajihudin, kepada Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada Syekh Muhammad Ibnu Muhammad, Syekh Abdul Rauf Singkel, kepada Syekh Abdul Muhyi (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada Kiai Mas Bagus (Kiai Abdullah) di Safarwadi, kepada Kiai Mas Bagus Nida’ (Kiai Mas Bagus Muhyiddin) di Safarwadi, kepada Kiai Muhammad Sulaiman (Bagelan, Jateng), kepada Kiai Mas Bagus Nur Iman (Bagelan), kepada Kiai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Bagelan) kepada Kiai Mas Bagus Ahmadi (Kalangbret, Tulungagung), kepada Raden Margono (Kincang, Maospati), kepada Kiai Ageng Aliman (Pacitan), kepada Kiai Ageng Ahmadiya (Pacitan), kepada Kiai Haji Abdurrahman (Tegalreja, Magetan), kepada Raden Ngabehi Wigyowinoto Palang Kayo Caruban, kepada Nyai Ageng Hardjo Besari, kepada Kiai Hasan Ulama (Takeran, Magetan), kepada Kiai Imam Mursyid Muttaqin (Takeran), kepada Kiai Muhammad Kusnun Malibari (Tanjunganom, Nganjuk) dan kepada KH Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).

Download Ebook Islam Gratis ( Bag 1 )

Download Ebook Islam Gratis ( Bag 1 )
  1. Konsep Laknat dalam al Quran: › download
  2. Peradaban Syiah dan Ilmu Keislaman (CHM): › download
  3. AhlulBait as dalam al Quran dan Hadits: › download
  4. Dialog Antar Iman: › download
  5. Kemelut Kepemimpinan Pasca Rasulullah Saaw: › download
  6. Riwayat Hidup Ahlul Bait as: › download
  7. Kisah Teladan Rasulullah SAW dan Ahlul Bait as: › download
  8. Sejarah 14 Manusia Suci AS: › download
  9. Tragedi Karbala 10 Muharram: › download
  10. Dialog Mazhab AhlulBayt as: › download
  11. Pendidikan Anak Menurut Ajaran Islam: › download
  12. Sejarah Abu Hurairah: › download
  13. Takdir Manusia oleh Murtadha Muthahhari ra: › download
  14. Kitab Muktamar Baghdad: › download
  15. Ahlul Bait AS Keluarga yang Disucikan Allah SWT: › download
  16. Doa dan Amalan Ramadhan: › download
  17. Inilah Aqidah Syiah: › download
  18. Mizan Keadilan Tuhan: › download
  19. Meretas Jalan Islam Muhammadi: › download
  20. Peradaban Syiah dan Ilmu Keislaman (PDF): › download
  21. Aliran Syiah di Indonesia: › download
  22. Suksesi Pasca Wafat Nabi Saw: › download
  23. Menjelajah Semesta Iman: › download
  24. Manusia Dan Alam Semesta: › download
  25. Fiqih Islam dalam Lima Mazhab: › download
  26. Sayyid Husain alHabsyi dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga: › download
  27. Akhirnya Kutemukan Kebenaran: › download
  28. Dialog Bersama Nabi Saw dan Ahlul bait as: › download
  29. Kebenaran Syafaat: › download
  30. Sejarah Tragedi Karbala: › download
  31. Syiah Produk alami Islam: › download
  32. Peran Akidah: › download
  33. Mencari Tuhan: › download
  34. Neraca Kebenaran Dan Kebatilan: › download
  35. Membangun Surga Dalam Keluarga: › download
  36. Peristiwa Ghadir dalam Perspektif Ahlusunnah: › download
  37. Kisah Para Nabi AS: › download
  38. Konsep Akidah Syiah Imamiyah: › download
  39. Konsep Keadilan Allah SWT: › download
  40. Kebenaran yang Hilang: › download
  41. Ahlul Bait as dalam al Quran dan Hadis: › download
  42. Perspektif Keadian Sahabat Dalam Islam: › download
  43. Antologi Islam: › download
  44. Memilih Mazhab Ahlul Bait as: › download
  45. Bahaya Hawa Nafsu: › download
  46. Khutbah Rasulullah Saaw di Ghadir Khum: › download
  47. Tafsir juz amma: › download
  48. Sudahkah Anda Sholat?: › download
  49. Wasiat sufi imam khomeini ra: › download
  50. Isu Penting Ikhtilaf Sunnah Syiah: › download
  51. Sekilas Biografi 14 Manusia Suci: › download
  52. Teks dan terjemahan alquran: › download
  53. Syiah Rasionalisme dalam Islam: › download
  54. Pelajaran Akhlak dalam Kehidupan: › download
  55. Khulafaur Rasyidin Antara Nash Dan Ijtihad: › download
  56. Imamah dan Wilayah: › download
  57. Mengenal Syiah – oleh: Syaikh Jafar Hadi: › download
  58. Masuknya Islam ke Indonesia: › download
  59. Mengenal Sayidah Fathimah az Zahra as: › download
  60. Fiqih Islam oleh Sayyid Ali Sistani: › download
  61. Nahjul Balaghah: › download

Sunday, 26 January 2014

Tarekat Syattariyah (1)


Ajaran dan Dzikir Tarekat Syattariyah 

Ajaran dan Dzikir Tarekat SyattariyahBila menyebut sebuah ajaran tarekat, yang paling banyak diajarkan dalam ritualnya adalah dzikir. Dan dzikir adalah salah satu amalan yang paling utama dalam sebuah tarekat. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw. bersabda, ''Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir itu akan menenangkan hati. Sebaik-baik dzikir adalah dengan membaca Laa Ilaha Illallah.''

Karena itulah, dzikir dan wirid, untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi hal yang paling utama dalam sebuah tarekat. Demikian halnya dengan Tarekat Syattariyah. Dalam ajaran dan ritualnya, tarekat ini juga banyak melafalkan kalimat-kalimat tauhid dan Asmaul Husna sebagai bagian dari wirid dan dzikir.

Para pengikut tarekat ini akan mencapai tujuan-tujuan mistik (kesufian) melalui kehidupan asketisme atau zuhud. Untuk menjalaninya, seseorang terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat akhyar (orang-orang terpilih) dan abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir.

Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah SWT itu sebanyak gerak nafas makhluk, tetapi yang paling utama di antaranya adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Ketiga kelompok tersebut memiliki metode masing-masing dalam berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan terhadap Allah SWT.

Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca Al Qur'an, melaksanakan haji, dan berjihad. Sedangkan, kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu menyucikan hati. Menurut para tokoh Tarekat Syattariyah, jalan tercepat untuk sampai kepada Allah SWT adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Syattar karena mereka memperoleh bimbingan langsung dari roh para wali.

Ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu tobat, zuhud, tawakal, qana'ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridha, dzikir, dan musyahadah (menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT). Dzikir dalam Tarekat Syattariyah terbagi dalam tiga kelompok yang semuanya menitikberatkan pada pelafalan Asma'ul Husna (nama-nama Allah SWT). Ketiga kelompok tersebut menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya, dan menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut.

Para pengikut ajaran Tarekat Syattariyah meyakini bahwa menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya akan menjadikan seorang salik (murid) lebih tunduk kepada-Nya. Nama-nama yang dimaksud adalah Al-Qahhar, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir. Setelah merasakan dirinya semakin tunduk kepada Allah SWT, murid dapat menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya, yaitu Al-Malik, Al-Quddus, dan Al-Alim. Sedangkan, nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut di atas adalah Al-Mukmin dan Al-Muhaimin.

Kisah Abu Yazid Bustami 3

ABU YAZID DAN SEORANG MURIDNYA

Ada seorang pertapa di antara tokoh-tokoh suci terkenal di Bustham. Ia mempunyai banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri senantiasa mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid. Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan duduk bersama sahabat-sahabat beliau.

Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid, "Pada hari ini genaplah tiga puluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan do'a sepanjang malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu."


"Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikitpun dari ceramah-ceramahku ini tidak akan dapat engkau hayati."
"Mengapa demikian?", tanya si murid.
"Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri", jawab Abu Yazid.
"Apakah yang harus kulakukan?", tanya si murid pula.
"Jika kukatakan, pasti engkau tidak mau menerimanya", jawab Abu Yazid.
"Akan kuterima!. Katakanlah kepadaku agar kulakukan seperti yang engkau petuahkan."
"Baiklah!", jawab Abu Yazid. "Sekarang ini juga, cukurlah janggut dan rambutmu. Tanggalkan pakaian yang sedang engkau kenakan ini dan gantilah dengan cawat yang terbuat dari bulu domba. Gantungkan sebungkus kacang di lehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai. Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan pada mereka, "Akan kuberikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar kepalaku." Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama sekali ke tempat dimana orang-orang sudah mengenalmu. Itulah yang harus engkau lakukan."

"Maha Besar Allah! Tiada Tuhan kecuali Allah", cetus si murid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu.

"Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim", kata Abu Yazid. "Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang sama engkau telah mempersekutukan Allah."
"Mengapa begitu?", tanya si murid.
"Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah kukatakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan kata-kata tadi untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang penting, dan bukan untuk memuliakan Allah. Dengan demikian bukankah engkau telah mempersekutukan Allah?".

"Saran-saranmu tadi tidak dapat kulaksanakan. Berikanlah saran-saran yang lain", si murid keberatan.

"Hanya itu yang dapat kusarankan", Abu Yazid menegaskan.
"Aku tak sanggup melaksanakannya", si murid mengulangi kata-katanya.
"Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku", kata Abu Yazid.

"Engkau dapat berjalan di atas air", orang-orang berkata kepada Abu Yazid. "Sepotong kayu pun dapat melakukan hal itu", jawab Abu Yazid.


"Engkau dapat terbang di angkasa". "Seekor burung pun dapat melakukan itu."


"Engkau dapat pergi ke Ka'bah dalam satu malam." "Setiap orang sakti dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam."


"Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati?", mereka bertanya kepada Abu Yazid. Abu Yazid menjawab, "Seorang manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapapun dan apapun kecuali kepada Allah."


Abu Yazid ditanya orang, "Bagaimanakah engkau mencapai tingkat kesalehan yang seperti ini?"

"Pada suatu malam ketika aku masih kecil, aku keluar dari kota Bustham. Bulan bersinar terang dan bumi tertidur tenang. Tiba-tiba kulihat suatu kehadiran. Di sisinya ada delapan belas ribu dunia yang tampaknya sebagai sebuah debu belaka. Hatiku bergetar kencang lalu aku hanyut dilanda gelombang ekstase yang dahsyat. Aku berseru "Ya Allah, sebuah istana yang sedemikian besarnya tapi sedemikian kosongnya. Hasil karya yang sedemikian agung tapi begitu sepi?" Lalu terdengar olehku sebuah jawaban dari langit, "Istana ini kosong bukan karena tak seorang pun memasukinya tetapi Kami tidak memperkenankan setiap orang untuk memasukinya. Tak seorang manusia yang tak mencuci muka-pun yang pantas menghuni istana ini.", jawab Abu Yazid.

"Maka aku lalu bertekat untuk mendo'akan semua manusia. Kemudian terpikirlah olehku bahwa yang berhak untuk menjadi penengah manusia adalah Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu aku hanya memperhatikan tingkah lakuku sendiri. Kemudian terdengarlah suara yang menyeruku, "Karena engkau berjaga-jaga untuk selalu bertingkah laku baik, maka Aku muliakan namamu sampai hari berbangkit nanti dan umat manusia akan menyebutmu.


RAJA PARA MISTIK

Abu Yazid menyatakan, "Sewaktu pertama kali memasuki Rumah Suci (Ka'bah), yang terlihat olehku hanya Rumah Suci itu. Ketika untuk kedua kalinya memasuki Rumah Suci itu, yang terlihat olehku adalah Pemilik Rumah Suci. Tetapi ketika untuk ketiga kalinya memasuki Rumah Suci, baik si Pemilik maupun Rumah Suci itu sendiri tidak terlihat olehku."

Sedemikian khusyuknya Abu Yazid dalam berbakti kepada Allah, sehingga setiap hari apabila ditegur oleh muridnya, yang senantiasa menyertainya selama 20 tahun, ia akan bertanya, "Anakku, siapakah namamu?" Suatu ketika si murid berkata pada Abu Yazid, "Guru, apakah engkau memperolok-olokkanku. Telah 20 tahun aku mengabdi kepadamu, tetapi, setiap hari engkau menanyakan namaku."


"Anakku.. Aku tidak memperolok-olokkanmu. Tetapi nama-Nya telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama yang lain. Setiap kali aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan olehku", Abu Yazid menjawab.


Abu Yazid mengisahkan:

Suatu hari ketika sedang duduk-duduk, datanglah sebuah pikiran ke dalam benakku bahwa aku adalah Syaikh dan tokoh suci zaman ini. Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Aku lalu bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum Allah mengutus seseorang untuk membukakan diriku.

Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang ke empat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang seekor unta sedang datang ke tempat persinggahan itu. Setelah mengamati dengan seksama, terlihat olehku tanda-tanda kesadaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya. Lelaki bermata satu itu memandangiku.


"Sejauh ini engkau memanggilku", katanya,"Hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?"


"Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepada orang itu, "Dari manakah engkau datang?"


"Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang kutempuh", kemudian ia menambahkan, "Berhati-hatilah Abu Yazid, Jagalah hatimu!"


Setelah berkata demikian ia berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.


MASA AKHIR

Diriwayatkan bahwa Abu Yazid telah tujuh puluh kali diterima Allah ke hadhirat-Nya. Setiap kali kembali dari perjumpaan dengan Allah itu, Abu Yazid mengenakan sebuah ikat pinggang yang lantas diputuskannya pula.

Menjelang akhir hayatnya Abu Yazid memasuki tempat shalat dan mengenakan sebuah ikat pinggang. Mantel dan topinya yang terbuat dari bulu domba itu dikenakannya secara terbalik. Kemudian ia berkata kepada Allah: "Ya Allah, aku tidak membanggakan disiplin diri yang telah kulaksanakan seumur hidupku, aku tidak membanggakan shalat yang telah kulakukan sepanjang malam. Aku tidak menyombongkan puasa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku tidak menonjolkan telah berapa kali aku menamatkan Al Qur'an. Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman spiritual khususku yang telah kualami, do'a- do'a yang telah kupanjatkan dan betapa akrab hubungan antara Engkau dan aku. Engkau pun mengetahui bahwa aku tidak menonjolkan segala sesuatu yang telah kulakukan itu.


Semua yang kukatakan ini bukanlah untuk membanggakan diri atau mengandalkannya. Semua ini kukatakan kepada-Mu karena aku malu atas segala perbuatanku itu. Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri. Semuanya tidak berarti, anggaplah itu tidak pernah terjadi. Aku adalah seorang Torkoman yang berusaha tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih di dalam kejahilan.


Dari padang pasir aku datang sambil berseru-seru, 'Tangri-Tangri' Baru sekarang inilah aku dapat memutus ikat pinggang ini. Baru sekarang inilah aku dapat menggerakkan lidahku untuk mengucapkan syahadat. Segala sesuatu yang Engkau perbuat adalah tanpa sebab. Engkau tidak menerima umat manusia karena kepatuhan mereka dan Engkau tidak akan menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepada-Mu limpahkanlah ampunan-Mu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena aku pun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhi-Mu.


Kemudian Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya dengan menyebut nama Allah pada tahun 261 H /874 M.

Kisah Abu Yazid Bustami 2

MI'RAJ

Abu Yazid mengisahkan, "Dengan tatapan yang pasti aku memandang Allah setelah Dia membebaskan diriku dari semua makhluq-Nya, menerangi diriku dengan Cahaya-Nya, membukakan keajaiban-keajaiban rahasia-Nya dan menunjukkan kebesaran-Nya kepadaku."

Setelah menatap Allah akupun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hakekat diri ini. Cahaya diriku adalah kegelapan jika dibandingkan dengan Cahaya-Nya, kebesaran diriku sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaran-Nya, kemuliaan diriku hanyalah kesombongan yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemuliaan-Nya. Di dalam Allah segalanya suci sedang di dalam diriku segalanya kotor dan cemar.


Bila kurenungi kembali, maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Allah. Aku menyadari kemuliaan diriku bersumber dari kemuliaan dan kebesaran-Nya. Apapun yang telah kulakukan, hanya karena kemahakuasaan-Nya. Apapun yang telah terlihat oleh mata lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Segala kebaktianku bersumber dari Allah, bukan dari diriku sendiri, sedang selama ini aku beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepada-Nya. Aku bertanya, "Ya Allah, apakah ini?"

Dia menjawab, "Semuanya adalah Aku, tidak ada sesuatupun juga kecuali Aku. Dan sesungguhnya tidak ada wujud selain wujud-Ku." Kemudian Ia menjahit mataku sehingga aku tidak dapat melihat. Dia menyuruhku untuk merenungi akar permasalahan, yaitu diri-Nya sendiri. Dia meniadakan aku dari kehidupan-Nya sendiri, dan Ia memuliakan diriku. Kepadaku dibukakan-Nya rahasia diri-Nya sendiri sedikitpun tidak tergoyahkan oleh karena adaku. Demikianlah Allah, Kebenaran Yang Tunggal menambahkan realitas ke dalam diriku. Melalui Allah aku memandang Allah, dan kulihat Allah di dalam realitasNya."


Di sana aku berdiam dan beristirahat untuk beberapa saat lamanya. Kututup telinga dari derap perjuangan. lidah yang meminta-minta kutelan ke dalam tenggorokan keputusasaan. Kucampakkan pengetahuan yang telah kutuntut dan kubungkamkan kata hati yang menggoda kepada perbuatan-perbuatan aniaya. Di sana aku berdiam dengan tenang. Dengan karunia Allah aku membuang kemewahan-kemewahan dari jalan yang menuju prinsip-prinsip dasar.


Allah menaruh belas kasih kepadaku. Ia memberkahiku dengan pengetahuan abadi dan menanam lidah kebajikan-Nya ke dalam tenggorokanku. Untuk diciptakan-Nya sebuah mata dari cahaya-Nya, semua makhluk kulihat melalui Dia. Dengan lidah kebajikan itu aku berkata-kata kepada Allah, dengan pengetahuan Allah kuperoleh sebuah pengetahuan, dan dengan cahaya Allah aku menatap kepada-Nya.


Allah berkata kepadaku, "Wahai engkau yang tak memiliki sesuatupun jua namun telah memperoleh segalanya, yang tak memiliki perbekalan namun telah memiliki kekayaan."


"Ya Alloh.. Jangan biarkan diriku terperdaya oleh semua itu. Jangan biarkan aku puas dengan diriku sendiri tanpa mendambakan diri-Mu. Adalah lebih baik jika Engkau menjadi milikku tanpa aku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa Engkau. Lebih baik jika aku berkata-kata kepada-Mu melalui Engkau, daripada aku berkata-kata kepada diriku sendiri tanpa Engkau."


Allah berkata, "Oleh karena itu perhatikanlah hukum-Ku dan janganlah engkau melanggar perintah serta larangan-Ku, agar Kami berterima kasih akan segala jerih payahmu."


"Aku telah membuktikan imanku kepada-Mu dan aku benar-benar yakin bahwa sesungguhnya Engkau lebih pantas untuk berterimakasih kepada diri-Mu sendiri dari pada kepada hamba-Mu. Bahkan seandainya Engkau mengutuk diriku ini, Engkau bebas dari segala perbuatan aniaya."


"Dari siapakah engkau belajar?", tanya Allah.


"Ia Yang Bertanya lebih tahu dari ia yang ditanya", jawabku, "Karena Ia adalah Yang Dihasratkan dan Yang Menghasratkan, Yang Dijawab dan Yang Menjawab, Yang Dirasakan dan Yang Merasakan, Yang Ditanya dan Yang Bertanya."


Setelah Dia menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar seruan puas dari Allah. Dia mencap diriku dengan cap kepuasan-Nya. Dia menerangi diriku, menyelamatkan diriku dari kegelapan hawa nafsu dan kecemaran jasmani. Aku tahu bahwa melalui Dia lah aku hidup dan karena kelimpahan-Nya lah aku bisa menghamparkan permadani kebahagiaan di dalam hatiku.


"Mintalah kepada-Ku segala sesuatu yang engkau kehendaki", kata Alloh. "Engkaulah yang kuinginkan", jawabku, "Karena Engkau lebih dari kemurahan dan melalui Engkau telah kudapatkan kepuasan di dalam Engkau. Karena Engkau adalah milikku, telah kugulung catatan-catatan kelimpahan dan kemurahan. Janganlah Engkau jauhkan aku dari diri-Mu dan janganlah Engkau berikan kepadaku sesuatu yang lebih rendah daripada Engkau."


Beberapa lama Dia tak menjawab. Kemudian sambil meletakkan mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku, berkatalah Dia, "Kebenaranlah yang engkau ucapkan dan realitaslah yang engkau cari, karena itu engkau menyaksikan dan mendengarkan kebenaran." "Jika aku telah melihat", kataku pula, "Melalui Engkau-lah aku melihat, dan jika aku telah mendengar, melalui Engkaulah aku mendengar. Setelah Engkau, barulah aku mendengar."


Kemudian kuucapkan berbagai pujian kepadaNya. Karena itu Ia hadiahkan kepadaku sayap keagungan, sehingga aku dapat melayang-layang memandangi alam kebesaranNya dan hal-hal menakjubkan dari ciptaanNya. Karena mengetahui kelemahanku dan apa-apa yang kubutuhkan, maka Ia menguatkan diriku dengan perhiasan-perhiasanNya sendiri.


Ia menaruh mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan membuka pintu istana ketauhidan untukku. Setelah Ia melihat betapa sifat-sifatku tauhid ke dalam sifat-sifat-Nya, dihadiahkan-Nya kepadaku sebuah nama dari hadirat-Nya sendiri dan berkata-kata kepadaku dalam wujud-Nya sendiri. Maka terciptalah Tauhid Dzat dan punahlah perpisahan.


"Kepuasan Kami adalah kepuasanmu", kata-Nya, "Dan kepuasanmu adalah kepuasan Kami. Ucapan-ucapanmu tak mengandung kecemaran dan tak seorang pun akan menghukummu karena ke-aku-anmu."


Kemudian Dia menyuruhku untuk merasakan hunjaman rasa cemburu, dan setelah itu Ia menghidupkan aku kembali. Dari dalam api pengujian itu aku keluar dalam keadaan suci bersih. Kemudian Dia bertanya, "Siapakah yang memiliki kerajaan ini."

"Engkau", jawabku.
"Siapakah yang memiliki kekuasaan?"

"Engkau", jawabku.

"Siapakah yang memiliki kehendak?"
"Engkau", jawabku.

Karena jawaban-jawabanku itu persis seperti yang didengarkan pada awal penciptaan, maka ditunjukkan-Nya kepadaku betapa jika bukan karena belas kasih-Nya, alam semesta tidak akan pernah tenang, dan jika bukan karena cinta-Nya segala sesuatu telah dibinasakan oleh ke-Maha Perkasaan-Nya. Dia memandangku dengan mata Yang Maha Melihat melalui medium Yang Maha Memaksa, dan segala sesuatu mengenai diriku sirna tak terlihat.


Di dalam kemabukan itu setiap lembah kuterjuni. Kulumatkan tubuhku ke dalam setiap wadah gejolak api cemburu. Kupacu kuda pemburuan di dalam hutan belantara yang luas. Kutemukan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada kepapaan dan tidak ada yang lebih baik dari ketidakberdayaan (fana, red). Tiada pelita yang lebih terang daripada keheningan dan tiada kata-kata yang lebih merdu daripada kebisuan. Dan tiada pula gerak yang lebih sempurna daripada diam. Aku menghuni istana keheningan, aku mengenakan pakaian ketabahan, sehingga segala masalah terlihat sampai ke akar-akarnya. Dia melihat betapa jasmani dan ruhaniku bersih dari kilasan hawa nafsu, kemudian dibukakan-Nya pintu kedamaian di dalam dadaku yang kelam dan diberikan-Nya kepadaku lidah keselamatan dan ketauhidan.


Kini telah kumiliki sebuah lidah rahmat nan abadi, sebuah hati yang memancarkan nur ilahi, dan mata yang ditempa oleh tangan-Nya sendiri. Karena Dia-lah aku berbicara dan dengan kekuasaan-Nya lah aku memegang. Karena melalui Dia aku hidup, karena Dia lah Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Menghidupi, maka aku tidak akan pernah mati. Karena telah mencapai tingkat keluhuran ini, maka isyaratku adalah abadi, ucapanku berlaku untuk selama-lamanya, lidahku adalah lidah tauhid dan ruhku adalah ruh keselamatan, ruh Islam. Aku tidak berbicara mengenai diriku sendiri sebagai seorang pemberi peringatan. Dia lah yang menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendak-Nya, sedang aku hanyalah seseorang yang menyampaikan. Sebenarnya yang berkata-kata ini adalah Dia, bukan aku.


Setelah memuliakan diriku Dia berkata, "Hamba-hamba-Ku ingin bertemu denganmu." "Bukanlah keinginanku untuk menemui mereka", jawabku. "Tetapi jika Engkau menghendakiku untuk menemui mereka, maka aku tidak akan menentang kehendak-Mu. Hiaslah diriku dengan ke-esaan-Mu, sehingga apabila hamba-hamba-Mu memandangku yang terpandang oleh mereka adalah ciptaan-Mu. Dan mereka akan melihat Sang Pencipta semata-mata, bukan diriku ini."


Keinginanku ini dikabulkan-Nya. Ditaruh-Nya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia membantuku mengalahkan jasmaniku.


Setelah itu Dia berkata, "temuilah hamba-hamba-Ku itu." Akupun berjalan selangkah menjauhi hadirat-Nya. Tetapi pada langkah yang kedua aku jatuh terjerumus. Terdengarlah seruan, "Bawalah kembali kekasih-Ku kemari. Ia tidak dapat hidup tanpa Aku dan tidak ada satu jalanpun yang diketahuinya kecuali jalan yang menuju Aku."


Setelah aku mencapai taraf tauhid Dzat - itulah saat pertama aku menatap Yang Esa - bertahun-tahun lamanya aku mengelana di dalam lembah yang berada di kaki bukit pemahaman. Akhirnya aku menjadi seekor burung dengan tubuh yang berasal dari ke-esa-an dan dengan sayap keabadian. Terus menerus aku melayang-layang di angkasa kemutlakan. Setelah terlepas dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, akupun berkata, "Aku telah sampai kepada Sang Pencipta. Aku telah kembali kepada-Nya."


Kemudian kutengadahkan kepalaku dari lembah kemuliaan. Dahagaku kupuaskan seperti yang tak pernah terulang di sepanjang zaman. Kemudian selama tiga puluh ribu tahun aku terbang di dalam sifat-Nya yang luas, tiga puluh ribu tahun di dalam kemuliaan perbuatan-Nya, dan selama tiga puluh ribu tahun di dalam keesaan Dzat-Nya. Setelah berakhir masa sembilan puluh ribu tahun, terlihat olehku Abu Yazid, dan segala yang terpandang olehku adalah aku sendiri.


Kemudian aku jelajahi empat ribu padang belantara. Ketika sampai di akhir penjelajahan itu terlihat olehku bahwa aku masih berada pada tahap awal kenabian. Maka kulanjutkan pula pengembaraan yang tak berkesudahan di lautan tanpa tepi itu untuk beberapa lama, aku katakan, "Tidak ada seorang manusia pun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi daripada yang telah kucapai ini. Tidak mungkin ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini."


Tetapi ketika kutajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di tapak kaki seorang Nabi. Maka sadarlah aku bahwa tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci hanyalah sebagai tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari kenabian tidak dapat kubayangkan.


Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerajaan Allah. Surga dan neraka ditunjukkan kepada ruhku itu tetapi ia tidak peduli. Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya peduli?. Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak dipedulikannya. Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayangan Allah, Nabi Muhammad Saw, terlihatlah olehku seratus ribu lautan api yang tiada bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya kujejakkan kaki ke dalam lautan api yang pertama itu, niscaya aku hangus binasa. Aku sedemikian gentar dan bingung sehingga aku menjadi sirna. Tetapi betapapun besar keinginanku, aku tidak berani memandang tiang perkemahan Muhammad. Walaupun aku telah berjumpa dengan Allah, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan Muhammad.


Kemudian Abu Yazid berkata, "Ya Allah, segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri. Bagiku tiada jalan yang menuju kepada-Mu selama aku ini masih ada. Aku tidak dapat menembus keakuan ini, apakah yang harus kulakukan?"


Maka terdengarlah perintah, "Untuk melepas keakuanmu itu ikutilah kekasih Kami, Muhammad, si orang Arab. Usaplah matamu dengan debu kakinya dan ikutilah jejaknya.


Maka terjunlah aku ke dalam lautan api yang tak bertepi dan kutenggelamkan diriku ke dalam tirai-tirai cahaya yang mengelilingi Muhammad. Dan kemudian tak kulihat diriku sendiri, yang kulihat Muhammad. Aku terdampar dan kulihat Abu Yazid berkata, "Aku adalah debu kaki Muhammad, maka aku akan mengikuti jejak Muhammad.


PERANG TANDING ANTARA ABU YAZID DAN YAHYA BIN MU'ADZ

Yahya bin Mu'adz - salah seorang tokoh sufi, waliyullah jaman itu, menulis surat kepada Abu Yazid, "Apakah katamu mengenai seseorang yang telah mereguk secawan arak dan menjadi mabuk tiada henti-hentinya?"
"Aku tidak tahu. Yang kuketahui hanyalah bahwa di sini ada seseorang yang sehari semalam telah mereguk isi samudra luas yang tiada bertepi namun masih merasa haus dan dahaga.", jawab Abu Yazid.

Yahya bin Mu'adz menyurati lagi, "Ada sebuah rahasia yang hendak kukatakan kepadamu tetapi tempat pertemuan kita adalah di dalam surga. Di sana, di bawah naungan pohon Tuba akan kukatakan rahasia itu kepadamu."


Bersamaan surat itu dia kirimkan sepotong roti dengan pesan, "Syaikh harus memakan roti ini karena aku telah membuatnya dari air zam-zam."


Di dalam jawabannya Abu Yazid berkata mengenai rahasia yang hendak disampaikan Yahya itu, "Mengenai tempat pertemuan yang engkau katakan, dengan hanya mengingat-Nya, pada saat ini juga aku dapat menikmati surga dan pohon Tuba, tetapi roti yang engkau kirimkan itu tidak dapat kunikmati. Engkau memang telah mengatakan air apa yang telah engkau pergunakan, tetapi engkau tidak mengatakan bibit gandum apa yang telah engkau taburkan."


Maka Yahya bin Mu'adz ingin sekali mengunjungi Abu Yazid. Ia datang pada waktu sholat Isya'. Yahya berkisah sebagai berikut, "Aku tidak mau mengganggu Syaikh Abu Yazid. Tetapi aku pun tidak dapat bersabar hingga pagi. Maka pergilah aku ke suatu tempat di padang pasir di mana aku dapat menemuinya pada saat itu seperti dikatakan orang-orang kepadaku. Sesampainya di tempat itu terlihat olehku Abu Yazid sedang sholat Isya'. Kemudian ia berdiri di atas jari-jari kakinya sampai keesokan harinya. Aku tegak terpana menyaksikan hal ini. Sepanjang malam kudengar Abu Yazid berkata di dalam do'anya, "Aku berlindung kepadamu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan ini."


Setelah sadar, Yahya mengucapkan salam kepada Abu Yazid dan bertanya apakah yang telah dialaminya pada malam tadi. Abu Yazid menjawab, "Lebih dari dua puluh kehormatan telah ditawarkan kepadaku. Tetapi tak satupun yang kuinginkan karena semuanya adalah kehormatan-kehormatan yang membutakan mata."


"Guru, mengapakah engkau tidak meminta pengetahuan mistik, karena bukankah Dia Raja diantara raja yang pernah berkata, "Mintalah kepada-Ku segala sesuatu yang engkau kehendaki?", Yahya bertanya. "Diamlah!", sela Abu Yazid, "Aku cemburu kepada diriku sendiri yang telah mengenal-Nya, karena aku ingin tiada sesuatu pun kecuali Dia yang mengenal diri-Nya. Mengenai pengetahuan-Nya, apakah peduliku. Sesungguhnya seperti itulah kehendak-Nya, Yahya. Hanya Dia, dan bukan siapa-siapa yang akan mengenal diri-Nya.


Yahya bermohon, "Demi keagungan Allah.. Berikanlah kepadaku sebagian dari karunia-karunia yang telah ditawarkan kepadamu malam tadi."


"Seandainya engkau memperoleh kemuliaan Adam, kesucian Jibril, kelapangan hati Ibrahim, kedambaan Musa kepada Allah, kekudusan Isa, dan kecintaan Muhammad, niscaya engkau masih merasa belum puas. Engkau akan mengharapkan hal-hal lain yang melampaui segala sesuatu. Tetaplah merenung Yang Maha Tinggi dan jangan rendahkan pandanganmu, karena apabila engkau merendahkan pandanganmu kepada sesuatu hal, maka hal itulah yang akan membutakan matamu", jawab Abu Yazid.


Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir ke pinggir untuk memberi jalan kepada binatang itu.


Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid ini dan berkata, "Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Abu Yazid adalah "Raja diantara kaum mistik", tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing. Apakah pantas perbuatan seperti itu?"


Abu Yazid menjawab, "Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku, 'Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja diantara para mistik?'. Begitulah yang sampai dalam pikiranku dan karena itulah aku memberi jalan kepadanya."


Suatu ketika Abu Yazid melakukan perjalanan menuju Ka'bah di Makkah, tetapi beberapa saat kemudian ia pun kembali lagi. "Di waktu yang sudah-sudah engkau tidak pernah membatalkan niatmu. Mengapa sekarang engkau berbuat demikian?", tanya seseorang kepada Abu Yazid.


"Baru saja aku palingkan wajahku ke jalan, terlihat olehku seorang hitam yang menghadang dengan pedang terhunus dan berkata, 'Jika engkau kembali, selamat dan sejahteralah engkau. Jika tidak, akan kutebas kepalamu. Engkau telah meninggalkan Allah di Bustham untuk pergi ke rumah-Nya'", jawab Abu Yazid.


Hatim Tuli - salah seorang waliyullah masa itu - berkata kepada murid-muridnya, "Barangsiapa di antara kamu yang tidak memohon ampunan bagi penduduk neraka di hari berbangkit nanti, ia bukan muridku."


Perkataan Hatim ini disampaikan orang kepada Abu Yazid, kemudian Abu Yazid menambahkan, "Barang siapa yang berdiri di tebing neraka dan menangkap setiap orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, kemudian mengantarnya ke surga lalu kembali ke neraka sebagai pengganti mereka, ia adalah muridku."

Kisah Abu Yazid Bustami 1

Abu Yazid Bustami



Syaikh Abu Yazid Thoifur bin Isa bin Sarusyan al-Busthami lahir di Bustham yang terletak di bagian timur Laut Persia. Beliau adalah salah seorang Sulthanul Awliya, yang merupakan salah satu Syaikh yang ada dalam silsilah tarekat Naqsyabandiyah, tarekat Sadziliyah, dan beberapa tarekat lain. Tetapi beliau sendiri 
 menyebutkan di dalam kitab karangan tokoh di negeri Irbil sbb:" ...bahwa mulai Abu Bakar Shiddiq sampai 
ke aku adalah golongan Shiddiqiyah."
Kakek Syaikh Abu Yazid al-Busthami adalah seorang penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah salah satu di antara orang-orang terkemuka di Bustham. Kehidupan Syaikh Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia masih berada dalam kandungan. "Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya", ibunya sering berkata pada Abu Yazid, "Engkau yang masih berada di dalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu kumuntahkan kembali." Pernyataan itu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Setelah sampai waktunya, si ibu mengirimkan Abu Yazid ke sekolah. Abu Yazid mempelajari Al Qur'an. Pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surat Lukman yang berbunyi, "Berterimakasihlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu." Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid. Ia meletakkan batu tulisnya dan berkata kepada gurunya, "Ijinkanlah aku untuk pulang, ada yang hendak kukatakan pada ibuku."

Sang guru memberi ijin, Abu Yazid lalu pulang ke rumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata, "Thoifur, mengapa engkau sudah pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah sesuatu kejadian istimewa?"

"Tidak", jawab Abu Yazid, "Pelajaranku sampai pada ayat dimana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepada-Nya dan kepadamu. Tetapi aku tak dapat mengurus dua rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Maka wahai ibu, mintalah diriku ini kepada Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Allah semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata."

"Anakku", jawab ibunya, "Aku serahkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau menjadi hamba Allah."

Di kemudian hari Abu Yazid berkata, "Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling ringan, paling sepele di antara yang lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari, yakni segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Allah.

"Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Maka akupun mengambilnya, ternyata di dalam tempayan kami tak ada air. Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itupun kosong. Oleh karena itu, aku pergi ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur. Malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian memberkati diriku. Kemudian terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tangaku kaku."

"Mengapa engkau tetap memegang kendi itu?" ibuku bertanya.
"Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena", jawabku. Kemudian ibu berkata kepadaku, "Biarkan saja pintu itu setengah terbuka." "Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku. Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali."

Setelah si ibu memasrahkan anaknya pada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negeri ke negeri lain selama 30 tahun, dan melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan. Di antara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama Shadiq. Ketika Abu Yazid sedang duduk dihadapannya, tiba-tiba Shadiq berkata kepadanya, "Abu Yazid, ambilkan buku yang di jendela itu."

"Jendela? Jendela yang mana?", tanya Abu Yazid.
"Telah sekian lama engkau belajar disini dan tidak pernah melihat jendela itu?"
"Tidak", jawab Abu Yazid, "Apakah peduliku dengan jendela. Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang kesini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini." "Jika demikian", kata sang guru," kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai."

Abu Yazid mendengar bahwa di suatu tempat tertentu ada seorang guru besar. Dari jauh Abu Yazid datang untuk menemuinya. Ketika sudah dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru yang termasyhur itu meludah ke arah kota Mekkah (diartikan menghina kota Mekkah), karena itu segera ia memutar langkahnya.
Abu Yazid berkata mengenai guru tadi, "Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Allah, niscaya ia tidak akan melanggar hukum seperti yang dilakukannya." Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya berjarak empat puluh langkah dari sebuah mesjid, ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan menghormati masjid itu.

Setiap kali Abu Yazid tiba di depan sebuah masjid, sesaat lamanya ia akan berdiri terpaku dan menangis.
"Mengapa engkau selalu berlaku demikian?" tanya salah seseorang kepadanya. "Aku merasa diriku sebagai seorang wanita yang sedang haid. Aku merasa malu untuk masuk dan mengotori masjid", jawabnya.

Perjalanan Abu Yazid menuju Ka'bah memakan waktu dua belas tahun penuh. Hal ini karena setiap kali ia bersua dengan seorang pengkhotbah yang memberikan pengajaran di dalam perjalanan itu, Abu Yazid segera membentangkan sajadahnya dan melakukan sholat sunnah dua raka'at. Mengenai hal ini Abu Yazid mengatakan: "Ka'bah bukanlah serambi istana raja, tetapi suatu tempat yang dapat dikunjungi orang setiap saat."

Akhirnya sampailah ia ke Ka'bah, tetapi ia tidak pergi ke Madinah pada tahun itu juga. Abu Yazid menjelaskan, "Tidaklah pantas berkunjung ke Madinah hanya sebagai pelengkap saja, saya akan mengenakan pakaian haji yang berbeda untuk mengunjungi Madinah."

Tahun berikutnya ia kembali menunaikan ibadah haji. Ia mengenakan pakaian yang berbeda untuk setiap tahap perjalanannya sejak mulai menempuh padang pasir. Di sebuah kota dalam perjalanan tersebut, suatu rombongan besar telah menjadi muridnya dan ketika ia meninggalkan tanah suci, banyak orang yang mengikutinya.

"Siapakah orang-orang ini?", ia bertanya sambil melihat kebelakang.
"Mereka ingin berjalan bersamamu", terdengar sebuah jawaban.
"Ya Allah!", Abu Yazid memohon, "Janganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hamba-Mu karenaku."

Untuk menghilangkan kecintaan mereka kepada dirinya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi mereka, maka setelah selesai melakukan sholat shubuh, Abu Yazid berseru kepada mereka, "Ana Allah ,Laa ilaha illa ana, Fa'budni." Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka Sembahlah Aku."

"Abu Yazid sudah gila!", seru mereka kemudian meninggalkannya.

Abu Yazid meneruskan perjalanannya. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tengkorak manusia yang bertuliskan "Tuli, bisu, buta.. mereka tidak memahami." Sambil menangis Abu Yazid memungut tengkorak itu lalu menciuminya. "Tampaknya ini adalah kepala seorang sufi", gumamnya, "Yang menjadi tauhid di dalam Allah... ia tidak lagi mempunyai telinga untuk mendengar suara abadi, tidak lagi mempunyai mata untuk memandang keindahan abadi, tidak lagi mempunyai lidah untuk memuji kebesaran Allah, dan tak lagi mempunyai akal walaupun untuk merenung secuil pengetahuan Allah yang sejati. Tulisan ini adalah mengenai dirinya."

Suatu ketika Abu Yazid di dalam perjalanan, ia membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya. "Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!", seseorang berseru. Setelah beberapa kali mendengar seruan ini, akhirnya Abu Yazid menjawab, "Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban." Kemudian si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada di atas punggung onta tersebut. Barulah ia percaya setelah melihat beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikitpun tidak memikul beban tersebut.

"Maha besar Allah, benar-benar menakjubkan!", seru si pemuda.
"Jika kusembunyikan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku", kata Abu Yazid kepadanya.
"Tetapi jika kujelaskan kenyataan-kenyataan itu kepadamu, engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku kepadamu?"

SYEIKH ABU YAZID AL BUSTHOMI


WUDHATUL WUJUD dalam PANDANGAN SYEIKH ABU YAZID AL BUSTHOMI

Karya-karyanya yang didalami dari pengalaman ruhaninya.
Merupakan salah satu dasar paham Wahdatul al Wujud, Wahdatul al syuhud, Ana al Haq dan Rabbani.
Faham Wahdatul Wujud ini dianut oleh Abu Hafas Al Naisabur, Abu Sa’id al Harraz, Junaid al Baghdadi, at Thusi, al Kalabasi, al Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi dan Maulana Rummi
Sedangkan Wahdatul al syuhud dianut oleh Muhammadan al Makki, Muhasibi al Sulami, Hujwiri, Al Qusyairi dan Imam al Ghazali dan Abdul Qadir Jilani dan Ahmad Rifa’i.
Dalam sejarah perkembangan tasawuf, Abu Yazid al-Bustami disebut sebagai sufi pertama yang membawa faham ittihad dalam arti seseorang telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, karena kesadarannya telah lebur bersatu dengan eksistensi Tuhan.
Munculnya paham ini telah menimbulkan sikap dan pandangan yang mendukung dan yang menentang di kalangan ulama. Tulisan ini berupaya mengkaji persoalan ini dalam sudut pandang pemahaman dunia tasawuf.
Dunia tasawuf adalah dunia rasa yang sarat dengan pengalaman spiritual yang seringkali berada di luar lingkungan rasional dan akal manusia. Butuh disadari bahwa sebelum terjadinya ittihad seorang sufi telah mengalami fana ‘dan baqa’. Dalam kondisi demikian tentu tidak bisa dipakai ukuran yang bisa digunakan untuk menilai suatu luahan luarbiasa (syathahat) yang keluar dari mulut seseorang yang dalam kondisi sadar. Sangat disayangkan pengalaman sufi dan spiritual seperti ini sering terungkap pada khalayak publik sampai dipandang sebagai ucapan yang menyesatkan karena secara lahiriah melanggar prinsip tanzih dalam ajaran Islam.
Ia memiliki nama lengkap Abu Yazid Thaifur bin Isa, beliau dilahirkan di Bustham Khurasan pada tahun 200 H (813 M) an ia lebih dikenal dengan nama Abu Yazid Al Busthami. Beliau wafat di Bustham pada tahun 261H (875M)
Abu Yazid dikenal sebagai anak saleh dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Ibunya dengan tekun membimbing dan megirimnya untuk belajar agama ke masjid. Setelah dewasa ia melanjutkan belajar agama ke berbagai daerah untuk berguru kepada ulama-ulama terkenal seperti Abu Ati dari Sind.
Kehidupannya sebagai seorang sufi ditempuh dalam perjalanan yang cukup panjang, sekitar dalam waktu 30 tahun beliau berkelana menyusuri padang pasir, hidup dengan zuhud, makan sedikit, tidur yang tidak begitu banyak. Dari kezuhudannya itu beliau dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ma’rifat yang hakiki untuk dapat mengenal Allah.
PENDAHULUAN
Abu Yazid al-Bustami, nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Dia lahir sekitar tahun 200 H (813 M) di Bustam, bagian Timur Laut Persia. Di Bustam ini pula ia meninggal padatahun 261 H (875 M); dan makamnya masih ada sampai saat ini banyakpengunjung dari berbagai tempat. Ia dikuburkan berdampingan dengan kuburan Hujwiri. Nasiri Khusraw dan Yaqut. Pada tahun 1313 M. didirikandi atanya sebuah kubah yang indah oleh seorang Sultan Mongol, Muhammad Khudabanda pada nasehat gurunya Syekh Syafruddin, salah seorang keturunan dari Bustam itu. Abu Yazid adalah seorang tokoh sufi yang terkenal pada abad ke 3 Hijriyah. Kakeknya Surusyan adalah seorang penganut agama Zoroaster (majusi), yang kemudian masuk Islam. Sedikit sekali orang mengetahui tentang sejarah hidupnya. Jika tidak ada penulis seperti di-Attar, orang tidak mengenalnya sama sekali. Siapa Abu Yazid itu, beberapa catatan tentang hidupnya hanya berupa catatan-catatan singkat sufi belaka
Sebelum Abu Yazid mempelajari tasawuf, ia belajar agama Islam menurut mazhab Hanafi. Kemudian ia memperoleh pelajaran tentang ilmu tauhid dan hakikat, begitu juga tentang fana ‘dari Abu Ali Sindi. Dia tidak meninggalkan tulisan, tetapi pengikut-pengikutnya mengumpulkan ucapan / ajaran-ajarannya. Abu Yazid adalah seorang zahid yang terkenal. Baginya zahid itu adalah seseoarang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup terdekat dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fas, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam fas terakhir ini ia berada dalam kondisi mental yang membuat dirinya tidak mengingat apa-apa lagi selain Allah. Abu Yazid adalah seorang tokoh sufi yang membawa ajaran yang berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya. Ajaran yang dibawanya banyak ditentang oleh ulama Fiqh dan Kalam, yang menjadi sebab ia keluar masuk penjara. Meskipun demikian, ia memperoleh banyak pengikut yang percaya pada ajaran yang dibawanya. Pengikut-pengikutnya menyebutnya Taifur. Kata yang diucapkannya seringkali memiliki arti yang begitu mendalam, sehingga jika dipahami secara zahir akan membawa kepada syirik, karena mempersekutukan antara Tuhan dengan manusia.
Memang dalam sejarah perkembangan tasawuf Abu Yazid dipandang sebagai pembawa faham al-fana ‘dan al-baqa’ dan sekaligus pencetus fahamal-Ittihad; dan sehingga dijuluki sebagai Orang pertama dari kaum sufi yang mabuk kepayang ..
Apa yang dimaksud dengan al-fana’, al-baqa’ dan al-Ittihad yang menjadi inti dari ajaran tasawuf Abu Yazid ini akan diuraikan pada bagian kedua berikut ini,
Ajaran Tasawufnya ABU YAZID AL Bustami
1. Fana dan Baqa ‘
Ajaran tasawuf terpenting Abu Yazid adalah fana’ dan baqa’. Ia dipandang sebagai ahli sufi pertama memberikaan ajaran fana dan baqa.
Dari segi bahasa, fana ‘berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah tasawuf, fana adakalanya diartikan sebagai kondisi moral yang luhur.
Dalam hal ini Abu Bakar Al-Kalabadzi (w. 378 H / 988 M) mendefinisikannya: “hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala kegiatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu.
Perolehan Abu Yazid ketahap fana ‘dicapai setelah meninggalkan segala keinginan selain keinginan kepada Allah.
Perjalanan Abu Yazid dalam menempuh fana itu sebagaimana dijelaskan: “Permulan adanya aku di dalam Wahdaniyat-Nya, aku menjadi burung yang tubuhnya dari Ahdiyat, dan kedua sayapnya dari daimunah. (Tetap dan permanen). Maka senantiasalah aku terbang di dalam udara kaifiat sepuluh tahun lamanya, sampai aku dalam udara demikian rupa 100 kali. Maka Sentiasalah aku terbang dan terbang lagi di dalam bidang azal. Maka kelihatanlah olehku pohon ahdiyat “(lalu ia terangkan apa yang dilihatnya pada pohon itu, buminya, dahannya, buahnya dan lain-lainnya.
Akhirnya beliau berkata: “Demi sadarlah aku dan tahulah aku bahwasanya: sama sekali itu hanyalah tipuan khayalan belaka”.
Kata-kata yang demikian dinamai syatahat, artinya kata-kata yang penuh khayal, yang tidak dapat dipegangi dan dikenakan hukum.
Pada suatu malam ia bermimpi bertemu dengan Tuhan dan bertanya kepada-Nya: “Tuhanku, tahukah untuk sampai ke-Mu?”. Tuhan menjawab: “Tinggalkanlah dirimu dan datanglah”.
Peninggalan Abu Yazid adalah menghilangkan kesadaran akan dirinya dan alam sekitarnya untuk dikonsentrasikan kepada Tuhan. Proses ini disebut juga dengan at-tajrid atau al-fana ‘bittauhid.
Ucapan-ucapan Abu Yazid yang menggambarkan bahwa ia telah mencapai al-fana ‘antara lain: “Aku kenal pada Tuhan melalui diriku hingga aku hancur (fana), kemudian aku kenal pada-Nya melalui diri-Nya maka aku hidup (hayat).
Kehancuran (fana ‘) dalam ucapan ini memberikan 2 bentuk identifikasi (Al-Ma’rifat) terhadap Tuhan, yaitu:
a. Pengenalan terhadap Tuhan melalui diri Abu Yazid.
b. Pengenalan terhadap Tuhan melalui diri Tuhan.
Baqa ‘
Adapun baqa ‘berasal dari kata baqiya. Arti dari segi bahasa adalah tetap. Atau menetapkan dalam Allah untuk selamanya. Sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Aadapun paham baqa ‘tidak dapat dipisahkan dengan paham fana’ karena keduanya merupakan paham yang berpasangan. Baqa merupakan tahap terakhir. Jika seorang sufi sedang mengalami fana ‘, ketika itu juga ia sedang menjalani baqa’.
Menurut pandangan sufi, setelah melalui latihan spiritual, penghayatan zikirillah, perbuatan kebajikan, pengabdian kepada Allah yang sebenarnya, penghapusan unsur-unsur kejiwaaan, maka yang tertinggal dalam diri sufi adalah sesuatu yang hakiki dan sesuatu yang abadi
Dalan jalan keruhanaian, sesudah tingkat fana dalam Allah. Allah mengatur hamba Nya di dalam kekdudukanan segala posisi (Maqam Al-maqamat) atau disuruhnya kemblai ke dunia untuk meyempurnakan mereka yang belum sempurna. Kaum ariffin menetapkan dalam Allah, tetapi pergi kembali ke makhluk dengan cinta, kemurahan, kehormatan dan kemuliaannya. Kaum Ariffin yang mencapai keabdian setelah fana ini ditujukan kepada manusia yang sempurna yang harus bekrja dan beramal di dunia, membimbing mereka yang belum sempurna. Jika tidak diberi tugas ini, Allah menyibukkan hamba Nya dengan dirinya sendiri dalam posisi segala posisi.
2. Ittihad
Ittihad adalah penyatuan, yaitu penyatuan dengan Tuhan tanpa ada perantara apa pun.
Abu Yazid menyebutnya dengan tajrid fana at tauhid. Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia menempuhi tahapan fana dan baqa ‘. Hanya saja dalam tulisan-tulisan sebelumnya, pembahasan tentang ittihad ini tidak ditemukan. karena pertimbangan keamanan jiwa ataukah ajaran ini sangat sulit dilaksanakan merupakan pertanyaan yang sangat baik untuk dikaji lebih lanjut. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik dirinya maupun perbuatannya.Dalam ittihad identitas telah hilang dan identitas menjadi satu. Sufi yang bersangkutan, karena fananya tak memiliki kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan
Al Bustami dipandang sebagai sufi pertama yang menimbulkan ajaran fana dan baqa ‘untuk mencapai ittihad dengan Tuhan
Pengalaman kedekatan Abu Yazid dengan Tuhan sampai mencapai ittihad disampaikannya dalam ungkapan:
Pada suatu ketika aku dinaikkan ke hadirat Tuhan, lalu Ia berkata: “Abu Yazid, makhluk-makhluk-Ku sangat ingin memandangmu.”
Aku menjawab: “Kekasihku, aku tak ingin melihat mereka. Tetapi jika itu kehendak-Mu, maka aku tak berdaya untuk melawan-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-makhluk-Mu memandangku, mereka akan berkata:” Kami telah melihat-Mu. Engkaulah itu yang mereka lihat, dan aku tidak berada di depan mereka itu. “
Puncak pengalaman kesufian al-Bustami dalam ittihad ini tergambar dalam ungkapan berikut:
Tuhan berkata: “Abu Yazid, mereka semua kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Aku pun berkata, aku adalah Engkau. Engkau adalah aku, dan aku adalah Engkau. Terputus munajat. Kata menjadi satu, bahkan semuanya menjadi satu. Tuhan berkata kepadaku, “Hai engkau”. Aku dengan perantaraan-Nya menjawab, “Hai aku” Ia berkata, “Engkaulah yang satu. Aku menjawab, akulah yang satu”. Ia berkata, “Engkau adalah engkau. Aku menjawab:” aku adalah aku. “
“Maha suci aku, maha suci aku, maha besar aku”.
“Maha suci aku tiada dalam baju ini selainnya Allah”
Dalam ittihad kelihatannya lidah berbicara melalui lisan Abu yazid. Ia tidak mengaku dirinya Tuhan, meskipun pada lahirnya ia berkata demikian
Suatu ketika seorang dengan rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu.
Abu Yazid bertanya, “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab. “Abu Yazid”. Abu Yazid berkata, “Pergilah, di rumahmu, dia tidak ada, kecuali Allah Yang Mahakuasa dan Mahatinggi”
Ucapan-ucapan Abu Yazid pada kalau diperhatikan secara sekilas memberikan kesan bahwa ia syirik kepada Allah. Karena itu, dalam sejarah, ada sufi yang ditangkap dan dipenjarakan karena ucapannya membingungkan golongan awam.
Kejadian-kejadian yang terjadi seperti diatas, mungkin itulah yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW, yang artinya:
“Tidak cukup cara pendekatan hamba Ku kepada Ku dengan hanya menjalankan ibadah yang diperlukan ke atasnya, supaya Aku mencintainya. Akan tetapi hambaku dapat mendekati Aku dengan ia selalu memperbanyak amalan-amalan sunnah (nawafil) demikian banyaknya sehingga ia Aku cintai. Maka saat ia Aku telah cintai, maka pendengaraKU, menjadi pendengarannya, tangan-menjadi tangannya, yang dengan dia ia memegang dan kakinya yang dengan dia ia berjalan dan jika ia meminta kepada Ku maka Aku makbulkan dan jika ia meminta dilindungi dari segala kesulitan, aku lindunginya “
Akhirnya beliau berkata:
“Aku tidak pernah mengaku sebagai Tuhan. Proses ittihad adalah naiknya jiwa manusia ke hadirat Ilahi, bukan melalui penyatuan. Hancurnya segala sesuatu dari kesadaran dan pandangnnya, yang disadari dan dilihat hanya hakikat yang satu, yakni Allah. Bahkan ia tidak melihat dan menyadari sendiri karena dirinya terlebur dalam Dia yang dilihat “
“Demi sadarlah aku dan tahulah daku bahawasnya sama sekali itu hanyalah tipuan khayalan belaka”