SURGA DAN NERAKA Syekh Siti Jenar
“anal jannatu wa nara katannalr al anna”,
sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan hakikat surga
dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah “inna al-janatu wa
al-naru qath’un ‘an al-ana” (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka
itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di dunia ini).
Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun,
surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal surga dan
neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak
dan binasa.
Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka
bukanlah tempat tertentu untuk memberikan pembalasan baik dan buruknya
manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari
keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi
manusia yg sudah memiliki ilmu kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami
kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup Yang Agung,
hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang
Hidup). Yaitu sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia.
Jadi, karena surga dan neraka itu
ternyata juga makhluk, maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga
bukanlah tempat kembalinya manusia yang sesungguhnya. Sebab tidak
mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan yang
belum sempurna hidupnya. Oleh al-Qur’an sudah ditegaskan bahwa tempat
kembalinya manusia hanya Allah, yang tidak lain adalah proses
kemanunggalan ……ilaihi raji’un, ilaihi al-mashir………
PUASA dan HAJI Syekh Siti Jenar
“Syahadat,
shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu.
Adapun zakat dan naik haji ke Makah, itu semua omong kosong (palson
kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama
manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan
surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak
tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.”
“Tiada pernah saya menuruti perintah
budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja,
bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini
idak masuk akal! Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua
mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu
dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada
satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.”
Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa
syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes
palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat
berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh
Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas
syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson
kabeh”, yg artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu
ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu
semua.”
Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar
adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah
mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu.
Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan
syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang
muncul dari aplikasi formal syariat tsb.
Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan
hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian.
Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman
spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat
dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan
keburukan di bumi.
Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi
kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya menjadi
alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang mengajarkan
syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan
tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan
berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah
gersangnya kehidupan rohani manusia.
Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah
shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah
merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk
ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan
profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah
melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang
Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti,
termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya.
Makna Ihsan
“Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar
Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad
lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia
lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam
pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai
menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar
berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul
yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”
“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan
sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat,
kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala
ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA
tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia
sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam
semesta, Ngidraloka”.
Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari
teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan
sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu
hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si
‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si
Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg
kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan
kebenaran.
Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya
Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA.
Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan
Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi
sifat pribadi.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.
“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh
mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti
penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan,
tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan
kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu
yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”
Ihsan berasal dari kondisi hati yg
bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh
eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan
menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati
adalah Allah atau Sang Pribadi. Oelh karena itu, sesama manusia dan
makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan
serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan
peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan
atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia
lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang
Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya
mereka tidak mengerti”).
Karena buta terhadap Allah Yang Maha
Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas
kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti
Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan
Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi
akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang
mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan
syari’at Islam.
Pribadi adalah pancara roh, sebagai
tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses
wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid.
Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu
sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan
keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau
kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya
sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah
melalui kehadiran manusia.
Sehingga proses terjadinya keselamatan
dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah),
bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi,
politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi.
Maka dapat diketahui bahwa teologi
Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya
sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan
menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta
perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai,
sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan
terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat
perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti
tidak akan terjadi.
Tafsir Kisah Musa dan Khidir (Syekh Siti Jenar)
“Sesungguhnya, Khidir AS bukanlah sosok
lain yg terpisah sama sekali dari keberadaan manusia rohani. Apa yg
disaksikan sebagai tanah menjorok dgn lautan di sebelah kanan dan kiri
itu bukanlah suatu tempat yg berada di luar diri manusia. Tanah itulah
yg disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu adalah Lautan Makna
(bahr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghaib) dan
lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam
asy-syahadat).”
“Sedangkan kawanan udang adalah
perlambang para pencari Kebenaran yg sudah berenang di perbatasan alam
kasatmata san alam tidak kasatmata. Kawanan udang perlambang para
penempuh jalan rohani (salik) yg benar-benar bertujuan mencari
Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yg berenang di lautan sebelah
kiri, di antara batu-batu, merupakan perlambang para salik yg penuh
diliputi hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.”
“Sesungguhnya, peristiwa yg dialami Nabi
Musa AS dgn Khidir AS, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an
Al-Karim, bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang manusia bertemu
manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan rohani yg berlangsung di
dalam diri Nabi Musa AS sendiri. Sebagaimana yg telah saya jelaskan, yg
disebut dua lautan di dalam Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah
Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua
lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan atau sekat (barzakh).”
“Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu
merupakan perlambang dunia kasatmata (‘alam asy-syahadat) yg berbeda
dengan wilayah perbatasan yg berdampingan dgn dunia gaib (‘alam
al-ghaib). Maksudnya, jika saat itu Nabi Musa AS melihat ikan dan
kehidupan yg melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu di
wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa AS akan melihat
sang ikan berenang di dalalm alamnya, yaiu lautan. Jika saat itu Nabi
Musa AS mencermati maka ia akan dapat menyaksikan bahwa sang ikan yg
berenang itu dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air
(dilambangkan manusia juga sama). Maknanya, sang ikan hidup di dalam air
dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat
iar dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam air. Itulah sebabnya,
ikan tidak dapat hidup tanpa air yg meliputi bagian luar dan bagian
dalam tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yg
tak bisa dilihatnya.”
“Sementara itu, seandainya sang ikan di
dalam lautan melihat Nabi Musa AS dari tempat hidupnya di dalam air
lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa AS di dalam dunia-yang
diliputi udara kosong-dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara
kosong yg meliputinya itu. Maknanya, Nabi Musa AS hidup di dalam liputan
udara kosong yg ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak
bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam
udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa AS tidak dapat hidup tanpa udara
kosong yg meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana pun Nabi Musa
AS berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yg tidak bisa
dilihatnya.”
“Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yg
mendampingi Nabi Musa AS dan membawakan bekal makanan adalah perlambang
dari terbukanya pintu alam tidak kasatmata. Sesungguhnya, dibalik
keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang Pembuka
(al-Fattah). Sebab, hijab gaib yg menyelubungi manusia dari Kebenaran
sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, sang Pembuka
(al-Fattah). Itu sebabnya, saat Nabi Musa AS bertemu dgn Khidir AS,
pemuda (al-fata) itu disebut-sebut lagi karena ia sejatinya merupakan
perlambang keterbukaan hijab ghaib.”
“Adapun bekal makanan yg berupa ikan
adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-‘amal ash-shalih) yg hanya
berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi
pencari Kebenaran sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal
gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang pemuda mengaku
dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.”
“Andaikata saat itu Nabi Musa AS
memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yg lain, apalagi sampai
memburu bekal ikan yg telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa AS
dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali.
Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya Nabi Musa AS.”
“Ternyata, Nabi Musa AS tidak peduli dgn
bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu melompat
ke lautan adalah tempat yg dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan
kabut ghain dari kesadaran Nabi Musa AS. Saat itulah purnama rohani
zawa’id berkilau dan Nabi Musa AS dapat melihat Khidir AS, hamba yg
dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yg memancar dari
citra ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni) yg memancar
dari Sang Pengetahuan (al-Alim).”
“Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada
Khidir AS karena dia merupakan hamba-NYA yg telah mereguk Air Kehidupan
(ma’ al-hayat) yg memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya,
barang siapa di antara manusia yg berhasil bertemu Khidir AS di tengah
wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya manusia itu telah
menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Penyayang
(ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir AS itu tidak lain dan idak bukan
adalah ar-roh al-idhafi, cahaya hijau terang yg tersembunyi di dalam
diri manusia, “Sang Penuntun” anak keturunan Adam AS ke jalan Kebenaran
Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran
(al-Haqq). Dia sang mursyid adalah pengejawantahan yang Maha Menunjuki
(as –Rasyid).”
“Demikianlah, saat sang salik melihat
Khidir AS sesungguhnya ia telah menyaksikan ar-roh al-idhafi, mursyid
sejati di dalam diri manusia sendiri. Saat ia menyaksikan kawanan udang
di lautan sebelah kanan, sesungguhnya ia telah menyaksikan Lautan Makna
(bahr-al-ma’na) yg merupakan hamparan permukaan Lautan Wujud (bahr
al-wujud). Namun, jika terputus penglihatan batiin (bashirab) itu pada
titik ini, berarti perjalanan menusia itu menuju ke Kebenaran Sejati
masih akan berlanjut.”
Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yg hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing menusia akan mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Yang jelas, pengalaman yg akan manusia alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg dialami Nabi Musa AS.”
Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yg hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing menusia akan mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Yang jelas, pengalaman yg akan manusia alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg dialami Nabi Musa AS.”
“Setelah berada di wilayah perbatasan,
Khidir AS dan Nabi Musa AS digambarkan melanjutkan perjalanan memasuki
Lautan Makna, yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan
menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yg mereka gunakan untuk
menyeberang itu adalah perlambang dari wahana (syari’ah) yg lazimnya
digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang
perbuatan baik (al ‘amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi
Lautan Makna menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yg sangat pribadi
menuju Lautan Wujud. Itulah sebabnya, perahu (syari’ah) itu harus
dilubangi agar air dari Lautan Makna masuk ke dalam perahu dan penumpang
perahu mengenal hakikat air yg mengalir dari lubang tersebut.”
“Setelah penumpang perahu mengenal air
yg mengalir dari lubang maka ia akan menjadi sadar bahwa lewat lubang
itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna yg
merupakan permukaan Lautan Wujud. Andaikata perahu itu tidak dilubangi,
dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka perahu itu tentu akan
dirampas oleh Sang Maha Raja (malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan
menjadi tawanan. Jika sudah demikian, maka untuk selamanya sang
penumpang perahu tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Maha
Ada (al-Wujud), yg bersemayam di segenap penjuru hamparan Lautan Wujud.
Penumpang perahu itu mengalami nasib seperti penumpang perahu yg lain,
yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maha Raja. Bahkan, jika Sang
Maha Raja menyukai hamba sahaya-NYA itu maka ia akan diangkat sebagai
penghuni Taman (jannah) indah yg merupakan pengejawantahan Yang Maha
Indah (al Jamal).”
“Adapun Atas Pernyataan kenapa wahana
(syariah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam perjalanan
menembus alam ghaib manuju Dia? Dapat dijelaskan sebagai berikut.”
“Sebab, wahana adalah kendaraan bagi
manusia yg hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke Taman
Surgawi. Sedangkan alam tidak kasatmata adalah alam yg tidak jelas
batas-batasnya. Alam yg tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal
manusia mengikat itu tidak bisa berijtihad untuk menetapkan hukum yg
berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir AS melarang Nabi Musa AS
bertanya sesuatu dgn akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yg
disaksikan Nabi Musa AS terdapat perbuatan yg dilakukan Khidir AS
benar-benar bertentangan dgn hukum suci (syari’at) dan akal sehat yg
berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang
anak kecil tak bersalah dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.”
“Namun jika wahana (syari’ah) tidak lagi
bisa dijadikan petunjuk, sebenarnya pedomannya tetaplah sama, yaitu
Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tetapi pemahamannya bukan dgn akal (‘aql)
melainkan dgn dzauq, yaitu cita rasa rohani. Inilah yg disebut cara
(thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang keras juga harus
pasrah kepada kehendak-NYA. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu
rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika
Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA maka kita pun tidak akan bisa
mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia
(walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA). Itu sebabnya,
di alam tidak kasatmata yg tidak jelas batas dan tanda-tandanya itu
kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan mengharap
limpahan rahmat dan hidayah-NYA.”
“Tentang makna di balik kisah Khidir AS membunuh seorang anak (ghulam) dapat saya jelaskan sebagai berikut.”
“Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil yg kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil y kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.”
“Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil yg kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil y kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.”
“Sesungguhnya, di dalam perjalanan
rohani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan
kerdil yg kekank-kanakan (ghulam) dari salik cenderung mengikari
kehambaan dirinya terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai
akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul). Ghulam
cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaan kepada Sang Rasul. Jika
keakuan yg kerdil dan kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam
yg lebih baik dan lebih diberbakti yg melihat dengan mata batin bahwa
dia sesungguhnya adalah “hamba” dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya
Yang Terpuji (Nur Muhammad).”
“Sesungguhnya, keakuan kerdil yg
kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia yg
cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yg
baik dan berbakti merupakan perlambang dari keberadaan roh manusia yg
cenderung setia dan berbakti kepada Sumbernya. Dan sesungguhnya,
perbuatan Khidir AS itu adalah perlambang yg sama saat Nabi Ibrahim AS
akan menyembelih Nabi Ismail AS ‘Pembuhunan’ itu adalah perlambang
puncak dari keimanan mereka yg beriman (mu’min).”
“Adapun dinding yg ditinggikan Khidir AS
adalah perlambang Sekat Tertinggi (al barzakh al ‘a’la) yg disebut juga
dgn Hijab Yang Maha Pemurah (hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah
pengejawantahan Yang Maha Luhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding
tersebut dinamakan Dinding al-Jalal (al jidar al-Jalal), yg dibawahnya
tersimpan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yg ingin diketahui.”
“Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini
yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi Musa AS,
yg keberadaannya terbentuk atas jasad ragwi (al-basyar) dan rohani
(roh). Kegandaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang
sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil
sendiri (mufrad) dan telah berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn
al-waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran Nabi Musa AS dan
bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mir’ah al-haya’I).”
“Adapun gambaran tentang ‘ayah yg salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yg mewariskan Khazanah Perbendaharaan , adalah perlambang diri dari Abu halih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah dialami Nabi Musa AS dalam perjalanan bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82) menurut penafsiran adalah perjalanan rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat).”
“Adapun gambaran tentang ‘ayah yg salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yg mewariskan Khazanah Perbendaharaan , adalah perlambang diri dari Abu halih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah dialami Nabi Musa AS dalam perjalanan bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82) menurut penafsiran adalah perjalanan rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat).”
“Memang Nabi Musa AS lahir hanya satu.
Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama
keberadaan sebagai al-basyar ‘anak’ Adam AS yg berasal dari anasir tanah
yg tercipta; dan keberadaannya sebagai roh ‘anak’ Cahaya Yang Terpuji
(Nur Muhammad) yg berasal dari tiupan (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya
(Nurun ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad
ragawi nabi Musa AS berasal dari Yang Mencipta (al-Kha-liq).”
“Sehingga tidak akan pernah terjadi
perseteruan dalam memperebutkan Khazanah Perbendaharaan warisan ayahnya
yg shalih. Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan
Dinding al-jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh
maka saat itu yg ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu
keberadaan al-basyar ‘anak’ Adam AS akan terserap ke dalam roh ‘anak’
Nur Muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal
dari Cahaya di Atas cahaya (Nurun ‘ala Nurin) yg merupakan pancaran dari
Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa
diuraikan dgn kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan.
Jadi, harus dijalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman
pribadi.”
Penjelasan tentang konsep Shiratal Mustaqim (Syekh Siti Jenar)
“Saya hanya memberi sebuah petunjuk yg
bisa digunakan untuk meniti jembatan (shirath) ajaib ke arah-NYA. Saya
katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan
jarak mereka yg meniti dgn tujuan yg hendak dicapai.”
“Sebagaimana kisah Nabi Musa AS dalam
perjalanan mencari Khidir AS, jembatan itu memiliki empat bagian mantra
yg masing-masing memiliki pintu. Pertama, mantra istighfar
yg berisi perlambang Nabi Musa AS bersama pemuda (al-fata) menjumpai
Khidir AS di perbatasan antara dua lautan. Kedua, mantra salawat yg
berisi perlambang Khidir AS melubangi perahu. Ketiga, mantra dalil yg
berisi perlambang Khidir AS membunuh anak. Keempat, mantra nafs al-haqq
yg berisi perlambang Khidir AS menegakkan dinding yg di bawahnya
tersembunyi perbendaharaan.”
Bagi kalangan awam, istighfar lazimnya
dipahami sebagai upaya memohon ampun kepada al-ghaffar sehingga mereka
beroleh ampunan (maghfirah). Tetapi bagi para salik, istighfar adalah
upaya memohon pembebasan dari ‘belenggu’ (penjara) kekauan kepada
al-ghaffar sehingga beroleh maghfirah yg menyingkap tabir ghain yg
menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam Asma’ al-Ghaffar terangkum
makna Maha Pengampun dan juga Makna Maha Menutupi, Maha menyembunyikan
dan Maha Menyelubungi.”
“Sesungguhnya perjalanan manusia, ketika sudah mengalami kasyf al-hijab ia telah sampai ke bagian jembatan yg disebut mantra istighfar. Tabir ghain yg menyelubungi keakuannya telah menyingsing. Ia telah menyaksikan Khidir AS, namun karena kadang ia terperangkap pada keinginan untuk memperoleh karunia-NYA semata (karamah dari kealian), namun ia hanya berputar-putar di mantra istighfar yg penuh diliputi gambaran-gambaran indah karunia-NYA.”
“Sesungguhnya perjalanan manusia, ketika sudah mengalami kasyf al-hijab ia telah sampai ke bagian jembatan yg disebut mantra istighfar. Tabir ghain yg menyelubungi keakuannya telah menyingsing. Ia telah menyaksikan Khidir AS, namun karena kadang ia terperangkap pada keinginan untuk memperoleh karunia-NYA semata (karamah dari kealian), namun ia hanya berputar-putar di mantra istighfar yg penuh diliputi gambaran-gambaran indah karunia-NYA.”
“Cara melepaskan hal itu, agar ia sampai
pada mantra salawat adalah dgn “Melubangi perahu” seperti yg dilakukan
Khidir AS hal ini harus dilakukan.”
“Tanpa melubangi perahu (maksudnya
tinggalkan akal dimana itu hanya sekedar pancaindera yg tidak kekal dan
hanya niat yg tulus dan “kasih” maka akan diberikan hidayah bagi yg
demikian…..seperti Prabu Jayabaya melakukan Moksa, Beliau meninggalkan
segala bentuk atribut kerajaan yg diperlambang meninggalkan akal..dan
intinya kembali ke fitrah seorang bayi yg melihat dgn “kasih” tanpa ada
kerajaan “Akal” di kepalanya), sang salik tidak akan mengetahui hakikat
sejati Lautan Wujud (bahr al-wujud). Tanpa melubangi perahu maka
kedudukan salik tidak jauh berbeda dgn kedudukan para nelayan;
memanfaatkan perahu untuk mencari ikan (pahala) dan berbagai karunia-NYA
yg terhampar di permukaan Lautan Wujud, yg selain bergelombang dahsyat
juga berisiko dihadang Sang Rajadiraja (al-Malik al-Mulki) yg setiap
saat akan merampas perahu-perahu yg baik.”
“Di mantra salawat ini sang salik harus
menyadari kehambaannya kepada Yang Maha Terpuji (ahmad) sebagai Sumber
segala kejadian. Di Mantra itu sang salik harus menjadi ghulam yg baik
dan berbakti kepada sumbernya, yakni pancaran Air Kehidupan yg mengalir
dari lubang perahu yg dibuat Khidir AS Ghulam yg durhaka dan mengingkari
kehambaannya kepada Yang Terpuji harus dibunuh. Sang salik yg tenggelam
ke dalam mantra salawat ini disebut fana ke dalam Rasulullah (fana’ fi
rasul).”
“Air Kehidupan yang memancar dari lubang
itu sesungguhnya sama hakikatnya dgn Air Kehidupan yg tergelar di
hamparan Lautan Wujud. Walau demikian, tanpa melalui Air Kehidupan yg
mengalir dari lubang maka salik tidak akan mencapai Air Kehidupan yg
tergelar di Lautan Wujud.”
“Mantra tahlil adalah mantra Ke-Esa-an. Mantra Tauhid. Inilah mantra Ke-Esa-an Wujud; Lautan Wujud sama hakikatnya dengan Air Kehidupan. Ibarat ungkapan kesaksian tidak ada ilah selain Allah (la ilaha illa Allah), demikianlah di mantra ini terungkap kesaksian tidak ada air lain yg tergelar di hamparan Lautan Wujud kecuali Air Kehidupan (Ma’ al-Hayy) yg mengalir dari Sang hidup (al-Hayy). Inilah mantra yg diibaratkan dalam perlambang dinding yg ditegakkan Khidir AS yg di bawahnya tersembunyi perbendaharaan.”
“Mantra tahlil adalah mantra Ke-Esa-an. Mantra Tauhid. Inilah mantra Ke-Esa-an Wujud; Lautan Wujud sama hakikatnya dengan Air Kehidupan. Ibarat ungkapan kesaksian tidak ada ilah selain Allah (la ilaha illa Allah), demikianlah di mantra ini terungkap kesaksian tidak ada air lain yg tergelar di hamparan Lautan Wujud kecuali Air Kehidupan (Ma’ al-Hayy) yg mengalir dari Sang hidup (al-Hayy). Inilah mantra yg diibaratkan dalam perlambang dinding yg ditegakkan Khidir AS yg di bawahnya tersembunyi perbendaharaan.”
“Mantra nafs al-haqq adalah mantra
rahasia yg tidak bisa diuraikan. Sebab, mantra ini menyangkut
Perbendaharaan Tersembunyi yg terdapat di bawah dinding. Tak ada satu
pun di antara makhluk yg mengetahui keberadaan-NYA, kecuali memang
dikehendaki-NYA. Jika Al Qur’an saja tidak memberikan penjelasan tentang
apa sesungguhnya Perbendaharaan, tentunya manusia tidak boleh
menghayal-khayal tentang Perbendaharaan itu. Gambaran Nabi Musa AS yg
berpisah dengan Khidir AS di mantra itu adalah kearifan dari Sang
Pencerita untuk tidak mengungkapkan apa yg tidak dapat dipahami
pendengar-NYA.”
Bagi Syekh Siti Jenar, bentuk lafadz
istighfar, shalawat, tasbih, tahlil dan semacamnya sebenarnya
lafadz-lafadz yg menuntut menusi untuk menempuh jalan menuju
kemanunggalan. Sehingga kalimat-kalimat tersebut tidaklah cukup hanya
dijadikan ucapan penghias bibir belaka. Kalimat-kalimat tersebut
hakikatnya adalah urat nadi perjalanan rohani manusia, yg penyelami
atasnya dapat membawa ke samudera ma’rifat untuk mengenal dan
mendekati-NYA dan kemudian menghampiri-NYA untuk manunggal dalam
keabadian. Sehingga mantra-mantra dari kalimat itu akan tetap terbawa
kesadarannya tetap mengiringinya dengan senyum menuju Haribaan-NYA.
Yakinlah kamu atas nama Allah maka kamu akan sampai dgn
kehendak-NYA…Amin…amin…
Pelaksanaan Haji Syekh Siti Jenar
Bagi Syekh Siti Jenar, ibadah haji di
al-Haramain merupakan tindakan atau laku ‘abid yg sedang menjalankan
ibadah untuk mengarahkan kiblat kepada Ma’bud. Inilah inti ibadah haji
yg menurut Syekh Siti Jenar akan mampu membawa pencerahan bagi
pelaksananya. Haji bukan semata-mata melaksanakan ihram, thawaf, sa’I,
wuquf, bermalam di Muzdalifah dan Masy’ar al-Haram dan melempar jumrah secara badani.
Tetapi makna hakiki haji bagi Beliau
adalah peribadatan yg mampu membawa seorang salik mendaki maqam
jasadiyah ke maqam rohaniyah; tindakan manapaki kembali jejak Adam yg
terusir dari surga, ke asal penciptaan yg mulia di antara semua
hamba-NYA, yaitu Adam yg kepadanya seluruh malaikat bersujud dan
dibanggakan Rabb-nya karena mengetahui nama-nama serta berwawansabda dgn
al-Khaliq.
Demikian pula dgn Makkah. Bagi Beliau
kota suci ini merupakan tempat meningkatkan kualitas kehidupan
mistiknya. Ka’bah sebagai “pusat kosmik” merupakan tempat khusus
memperoleh pengalaman rohani yg tidak mungkin diperoleh di temapat lain.
Perenungan yg demikian dalam itulah yg kemudian menghasilkan pengalaman
spiritual, menuju puncak ma’rifatullah.
Pengalaman spiritual pertama, Syekh Siti
Jenar mengalami ke fana’-an yg lebih tinggi dibanding pengalaman
spiritual yg sudah lewat. Dalam keadaan fana’-nya itu, ia mengalami
pandangan lawami’, menyaksikan seorang pemuda yg telah sampai kepada
tingkatan puncak dalam pendakian spiritual. Melalui isyarat (pembicaraan
dgn bahasa perlambang) dan al-ima’ (pembicaraan tanpa lisan dan bahasa
perlambang), pemuda tersebut mengungkap jalan menuju-NYA; menembus
berbagai tabir hijab dualitas insaniyah dan Ilahi-yah, memasuki samudera
sifat dan Asma Allah. Beliau dituntun menjadi al-Insan al-Kamil, dimana
potensi Roh al-Haqq yg bersemayam dalam Baitul Haram hati-jiwanya,
dioptimalisir bagi eksistensi dirinya di dunia. Jika Roh al-Haqq ini
tidak dioptimalisasikan, maka hakikat manusia hidup adalah hanya sebagai
mayat atau bangkai. Demikian pula jalur ibadah formal yg tidak disertai
kebangkitan Roh al-Haqq, tidak akan memiliki efektivitas apapun, bagi
kehidupan sejati di akhirat kelak.
Roh al-Haqq dari lubuk Abitul Haram hati
itulah yg menjalin relasi dgn Dia (Huwa), yg meniupkan roh-NYA melalui
nafs al-rahman. Melalui jalur itulah akan tersingkap seluruh rahasia
keberadaan al-Haqq (Yang Riil) yg menjadi esensi sekaligus substansi Roh
al-Haqq. Jalinan antara al-Haqq dan Huwa (Dia Yang Mutlak Tak Terbatas)
itulah hakikat sejati dari fana’ fi tauhid; Yang Riil Yang Beragam
(farq), manunggal dengan Yang Satu (Jam’).
Setelah Beliau mengalami pengalaman
puncak spiritual yg dahsyat tsb, kembali terjadi pengalaman kedua.
Melalui nur lawami’ dan fawa’id-nya, ia mengetahui bahwa pemuda yg
semula membimbingnya mengalami pengalaman puncak, tiada lain dan tidak
bukan adalah Abu Bakar al-Shidiq, sahabat etrkasih Rasulullah.
Pengalaman pertemuan dgn roh Abu Bakar itu terjadi dalam kondisi ekstase
kesufian, ketika kesadaran jiwanya berada dalam ‘alam al-khalaq (alam
kasatmata)dgn ‘alam al-khayal (alam imajinasi).
Pengalaman ketiga, terjadi ketika thawaf
wada’. Ketika kondisi rohaninya sedang berada dalam ke-fana’-an, ia
merasakan nur dalam dirinya menyatu dgn Nur Muhammad. Dalam pergulatan
kalbunya itu, kemudian ia terbawa dalam situasi yg mencengangkan.
Mendadak Ka’bah dan segala yg disekitarnya lenyap. Ia berada di alam
syahadah yg maha-luas, dimana seluruh tubuhnya memancar Nur. Ia
merasakan dan menyatu dgn Nur, sehingga ia tidak tahu lagi tentang
eksistensi dirinya. Antara sadar dan tidak, ia merasakan al-Haqq yg
bersemayam di arsy Baitul Haram hatinya berkata-kata sendiri, “Ana sirr
al-Haqqi wa ma al-Haqq ana, wa ANA AL-HAQQ fa innani ma ziltu aba wa bi
al-Haqqi haqqun.”
Di Makkah beliau telah berhasil mencapai
kemanunggalan. Kini seluruh pandangan beliau telah selalu berada dalam
‘ain al-bashirah, sebagai pengejawantahan dari al-Bashir.
Ketika Syekh Siti Jenar berada di depan
kubur Rasulullah, ia kembali mengalami lintasan-lintasn rohani yg
menakjubkan. Kali ini melalui pandangan al-bashirah-nya, ia dieprtumukan
dgn sosok agung Muhammad SAW, yg mengungkapkan rahasia Nur Muhammad dan
wujudiyah kepada Syekh Siti Jenar, mengungkapkan rahasia kalimat, “Ana
min nur Allah wa khalq kulluhum min nuri.” Demikian pula mengenai
rahasia Haqiqah Muhammad, yg di dalamnya terhadap nama lain Nabi
Muhammad, yaitu “Ahmad” itulah yg dimaksud dalam hadist “ana Ahmadun
bi-la mim.” Yg maksudnya adalah “Aku tidak lain adalah Ahad.” Jadi Nabi
Muhammad yg diberi nama semesta “Ahmad” tidak lain adalah
pengejawantahan dari sang “Ahad” sendiri.
Dari pengalaman kemanunggalan yg dialami
di Makkah itu, Syekh Siti Jenar tidak bisa membedakan antara fana’ fi
Allah dan fana’ fi rasul, sebab hakikat dan esensinya sama. Fana’ fi
rasul, melalui rahasia di balik nama “Ahmad”, tidak lain juga fana’ fi
al-Ahad.
No comments:
Post a Comment